Topo Bisu – Tradisi Mubeng Benteng Keraton Yogyakarta Malam Satu Suro

Terakhir saya mengikuti tradisi Mubeng Benteng atau Topo Bisu dalam memperingati malam satu suro pada tahun 2019 silam.

Ini kali ketiga saya mengikuti topo bisu pada tahun 2017, 2018, dan 2019. Pada tahun 2019, saya secara khusus meliput lempah budaya ini dari awal sampai akhir. Puluhan foto dan vidio hanya tersimpan rapi. Baru sempat saya bagikan hari ini, setelah 2 tahun lamanya.

Saya akan bercerita makna topo bisu bagi saya, yang bukan berasal dari Suku Jawa.

Topo Bisu atau Tapa Bisu adalah  adalah rangkaian tradisi satu suro yang dilaksanakan Keraton Yogyakarta. Topo Bisu ramai diikuti oleh segala lini masyarakat, mulai dari keluarga keraton, abdi dalem, seluruh lapisan masyarakat, hingga wisatawan. Saya termasuk kategori wisatawan yang candu akan kebudayaan Jawa. Maka dari itu saya selalu menyempatkan diri dalam mengikuti tradisi budaya khususnya yang diadakan Keraton Yogyakarta.

Topo bisu adalah mengelilingi benteng keraton Yogyakarta dengan berjalan kaki dan diam. Jika ingin mengikuti rangkaian ini secara khusyuk, membisu lah. Beberapa teman juga mengatakan, ada yang menangis saat mengikuti ritual ini. Bisa jadi, karena saya merasa ini seperti refleksi atau muhasabah diri yang dilaksanakan dengan keadaan berjalan kaki dan membisu. Saya juga menyaksikan banyak keluarga yang mengajak anaknya ikut dalam ritual ini. Ini adalah salah satu bentuk pengenalan tradisi budaya sedari dini. Bisa dibayangkan acara ini baru akan selesai pada jam 1 atau jam 2 tengah malam.

Sebelum topo bisu mengelilingi benteng keraton, ada beberapa rangkaian acara yang dilakukan.

  1. Pembacaan doa-dia dalam bahasa jawa kuno.
Seluruh abdi dalem terlibat dalam pembacaan doa
Masyarakat juga diberi kertas panduan dalam membaca doa
Setiap sudut halaman keraton dipenuhi masyarakat yang ingin mengikuti rangkaian acara mubeng benteng atau topo bisu
  1. Pembagian nasi berkat

Setelah pembacaan doa, para abdi dalem akan membagian nasi berkat kepada masyarakat yang hadir. Karena keterbatasan jumlah, banyak masyarakat yang berebut untuk mendapatkannya.

Pembagian nasi berkat
  1. Topo Bisu

Setelah itu, masyarakat menuju gerbang keraton untuk mengikuti ritual topo bisu. Mereka menunggu para abdi dalem terlebih dahulu, lalu mengikuti barisan dan berjalan di belakang abdi dalem.

Antusias masyarakat menunggu abdi dalem untuk melaksanakan topo bisu

Pelaksanaan topo bisu dikawal ketat oleh aparat kepolisian. Beberapa jalan akan di tutup untuk kelanjaran proses ritual ini. Selain itu juga banyak masyarakat yang menyaksikan dan mengabadikan.

Sekian tulisan saya malam ini. Karena pandemi, selama dua tahun berturut-turut mubeng benteng ditiadakan.

 

Leave a Reply